Datang dari Bangka dengan membawa kedekilan dan kealayan yang lwar biasa, kini Shofi hidup di Nu york City, ngopi-
ngopi cantik bersama kawan sebayanya yang terkadang ialah penyanyi cilik. Bangku kuliah mempertemukan saya dengan Shofi. Ia kerap hadir ke kampus dengan jilbab pink / kuning. Yaampun.
Shofi seperti anak yang dari daerah yang cukup jauh selain ndeso tapi juga pintar. Saya beberapa kali satu kelompok dengan Shofi. Kelompok paling signifikan adalah kelompok Produksi Iklan. Peran perempuan-perempuan cukup baik dalam mengimbangi keabsurdan lelaki-lelaki yang berpikir kesana-kemari agar dapat nilai A.
Saat kuliah Shofi cukup aktif di beberapa kantung-kantung aktivitas seperti, debat bahasa Inggris dan orkestra kampus. Shofi mahir bermain violin seperti Maylaffayza, tapi nasibnya saja yang berbeda.
Hal yang cukup absurd dalam riwayat Shofi, adalah ia pernah bekerja paruh waktu di Movie Box, tempat gaul dimana kita bisa menonton film beramai-ramai dengan sound system yang cukup bioskop. Dengan seragam biru a la Indomaret, Shofi melayani teman-teman yang ingin menonton filem.
Setelah lulus Shofi menuju DKI Jakarta untuk bekerja di tempat kerja yang mengharuskan karyawannya memakai rompi dan jalan-jalan keliling Nusantara. Kepergian Shofi dari Jogja saya tulis di blog saya yang lain di sini http://lomonosodiumglutamat.blogspot.co.id/2014/04/awal-yang-manis.html
Kisah cinta Shofi yang ada dalam ingatan (buanyak orang) adalah ketika ia putus dengan lelaki dan tiba-tiba kerabat saya Nitha mengirim semua orang direct message Twitter yang inti pesannya, "tweet dengan hashtag #10hourstogetyouback untuk dukung Shofi balikan sama pacarnya yang di Jakarta". Hal yang heroik dari hashtag ini adalah, Posisi Shofi saat itu ada di Singapura dan lelakinya di Jakarta. Dengan begitu demi bisa mendapatkan cintanya kembali Shofi harus ke Jakarta untuk bicara banyak ini itu bersama lelaki itu. 10 hours di sini, Shofi memang hanya punya waktu 10 jam untuk menyelesaikan masalah derama percintannya ini ia punya aktivitas yang memaksa ia tuk ke Singapura kembali secepatnya. Hingga kini tagar #10hourstogetyouback masih ada di Twitter dan akan kekal selamanya ada di dunia maya. Meski Shofi mencari cara hapus semua itu, hanya Twitter yang punya kuasa.
Apa Shofi masih dengan lelaki itu sekarang ? tentu tidak. Akan tetapi memang buaian cinta masa muda tak bias dielakkan. Baiknya biar jadi pelajaran tuk Shofi agar tidak menjadi alay kembali di segala aspek kehidupan.
Kini Shofi berada di New York, hidup dari uang pajak yang kita bayarkan. Ia sekolah demi dapat gelar sarjana via beasiswa LPDP. Meski disana ia enggan memakai jilbab, semoga tetap jadi anak baik agar tidak malu-maluin negara. Dari update media sosialnya sih, kini ia sedang sibuk kuliah dan nyanyi-nyanyi dengan teman pergaulannya di sana. Oh, dan sibuk hunting tiket konser. huh. Uang negara jadi tiket konser Sondre Lerche. Semoga kita semua ikhlas ya. Sekarang saya cuma lagi nunggu Shofi nampang di Instagram / Facebook Human of New York, bicara tentang apa ya kira-kira.
ngopi cantik bersama kawan sebayanya yang terkadang ialah penyanyi cilik. Bangku kuliah mempertemukan saya dengan Shofi. Ia kerap hadir ke kampus dengan jilbab pink / kuning. Yaampun.
Shofi seperti anak yang dari daerah yang cukup jauh selain ndeso tapi juga pintar. Saya beberapa kali satu kelompok dengan Shofi. Kelompok paling signifikan adalah kelompok Produksi Iklan. Peran perempuan-perempuan cukup baik dalam mengimbangi keabsurdan lelaki-lelaki yang berpikir kesana-kemari agar dapat nilai A.
Saat kuliah Shofi cukup aktif di beberapa kantung-kantung aktivitas seperti, debat bahasa Inggris dan orkestra kampus. Shofi mahir bermain violin seperti Maylaffayza, tapi nasibnya saja yang berbeda.
Hal yang cukup absurd dalam riwayat Shofi, adalah ia pernah bekerja paruh waktu di Movie Box, tempat gaul dimana kita bisa menonton film beramai-ramai dengan sound system yang cukup bioskop. Dengan seragam biru a la Indomaret, Shofi melayani teman-teman yang ingin menonton filem.
Setelah lulus Shofi menuju DKI Jakarta untuk bekerja di tempat kerja yang mengharuskan karyawannya memakai rompi dan jalan-jalan keliling Nusantara. Kepergian Shofi dari Jogja saya tulis di blog saya yang lain di sini http://lomonosodiumglutamat.blogspot.co.id/2014/04/awal-yang-manis.html
Kisah cinta Shofi yang ada dalam ingatan (buanyak orang) adalah ketika ia putus dengan lelaki dan tiba-tiba kerabat saya Nitha mengirim semua orang direct message Twitter yang inti pesannya, "tweet dengan hashtag #10hourstogetyouback untuk dukung Shofi balikan sama pacarnya yang di Jakarta". Hal yang heroik dari hashtag ini adalah, Posisi Shofi saat itu ada di Singapura dan lelakinya di Jakarta. Dengan begitu demi bisa mendapatkan cintanya kembali Shofi harus ke Jakarta untuk bicara banyak ini itu bersama lelaki itu. 10 hours di sini, Shofi memang hanya punya waktu 10 jam untuk menyelesaikan masalah derama percintannya ini ia punya aktivitas yang memaksa ia tuk ke Singapura kembali secepatnya. Hingga kini tagar #10hourstogetyouback masih ada di Twitter dan akan kekal selamanya ada di dunia maya. Meski Shofi mencari cara hapus semua itu, hanya Twitter yang punya kuasa.
Apa Shofi masih dengan lelaki itu sekarang ? tentu tidak. Akan tetapi memang buaian cinta masa muda tak bias dielakkan. Baiknya biar jadi pelajaran tuk Shofi agar tidak menjadi alay kembali di segala aspek kehidupan.
Kini Shofi berada di New York, hidup dari uang pajak yang kita bayarkan. Ia sekolah demi dapat gelar sarjana via beasiswa LPDP. Meski disana ia enggan memakai jilbab, semoga tetap jadi anak baik agar tidak malu-maluin negara. Dari update media sosialnya sih, kini ia sedang sibuk kuliah dan nyanyi-nyanyi dengan teman pergaulannya di sana. Oh, dan sibuk hunting tiket konser. huh. Uang negara jadi tiket konser Sondre Lerche. Semoga kita semua ikhlas ya. Sekarang saya cuma lagi nunggu Shofi nampang di Instagram / Facebook Human of New York, bicara tentang apa ya kira-kira.
Comments
Post a Comment