Ada nama Bali yang tidak ia tampakkan di dalam kesehariannya, di akun media sosial atau lainnya. Kebetulan saya sempat baca blognya jadi ngerti nama aslinya. Rinta atau sering dipanggil...
Rintacos.. entah dari mana kata "cos" ini datang. Disinyalir mungkin dari plat nomor mobil hijaunya, karena ada tulisan COS-nya, atau ada cerita lain nanti tunggu dari yang punya nama aja.
Impressi melihat Rinta sebenarnya seperti nak lanang. Kecil rambutnya pendek, kaca mata besar. Oh oke, ini Detective Conan. Setelah itu saya beranikan follow twitternya dan akhirnya bisa baca-baca tulisannya di blognya itu. Tulisannya tak jauh dari buku-buku yang ia baca. Meski ada tulisan lain tentang kejadian atau curhat pun pasti ada quote yang ia ambil dari sebuah buku. Buku-buku yang mana saya bahkan tak kenal penulisnya.
Lama hanya lihat-lihat Rinta seliweran di Kampus, interaksi pertama dengan Rinta itu saat 31 Hari Menulis (http://31harimenulis.blogspot.co.id/), karena ngefans sama tulisannya di https://azarinekylarinta.wordpress.com (blog sebelum yang ini ada kan ya ?). Tulisan Rinta di 31
Hari menulis cukup asyik dan ternyata cukup banyak yang baca http://31harimenulis.blogspot.co.id/2013/06/penulis-tamu-ketujuh-31-hari-menulis_12.html.
Cukup lama setelah itu, kira-kira beberapa hari sebelum Rinta pergi dari DIY, saya sempatkan ketemu di Mcd yang ramai saat bubaran dugem, Mcd Jombor. Di sana cukup banyak yang diceritakan mengenai masa lalu, kini dan kedepannya. Cukup memberi ide-ide yang harus saya lakukan di masa depan, khususnya dedikasi untuk komunitas, untuk orang sekitar dan negara. Rinta cukup berobsesi untuk punya andil di kemajuan negeri.
Sebelum pergi dari DIY sebenarnya saya punya tekad untuk memberinya kado yang ke-star-wars-star-wars-an, karena foto facebooknya adalah Rinta memegang Lightsaber (lol), tapi sayangnya ternyata pulang wisuda Rinta tak lagi tampak dan kabarnya malah sudah di jalan menuju ibu kota bersama ibunda. Karena itu saya harus titipkan ke Aldo, teman dekatnya.
Setelah baca lagi tulisan Rinta di 31 hari menulis, saya baca lagi kutipan tulisannya (setelah googling ternyata) dari puisi Robert Frost, The Road Not Taken :
Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Kalau dibaca dikala umur segini ternyata rasanya beda ya. ah.
Sekarang Rinta punya project lain juga disamping blognya, https://theavonturir.wordpress.com/, kumpulan cerita tentang Rinta yang berada di Jakarta dan rekannya, Rifda Amalia (her twins actually~) di New York sana. Mereka berbagi cerita tentang yang mereka lihat sehari-hari, dari pameran seni hingga opini politik Beberapa minggu yang lalu mereka saling temu kembali di newyork dan menyaksikan The Book of Mormon on Broadway (ah damn).
Rinta kini sepertinya masih di DKI, bertugas kesana kemari di acara yang berbau seni. Semoga Rinta tetap waras dan tetap panjang umurnya meski sering hidup bersama deadline, rokok dan kopi.
leren lho cos ~
Rintacos.. entah dari mana kata "cos" ini datang. Disinyalir mungkin dari plat nomor mobil hijaunya, karena ada tulisan COS-nya, atau ada cerita lain nanti tunggu dari yang punya nama aja.
Impressi melihat Rinta sebenarnya seperti nak lanang. Kecil rambutnya pendek, kaca mata besar. Oh oke, ini Detective Conan. Setelah itu saya beranikan follow twitternya dan akhirnya bisa baca-baca tulisannya di blognya itu. Tulisannya tak jauh dari buku-buku yang ia baca. Meski ada tulisan lain tentang kejadian atau curhat pun pasti ada quote yang ia ambil dari sebuah buku. Buku-buku yang mana saya bahkan tak kenal penulisnya.
Lama hanya lihat-lihat Rinta seliweran di Kampus, interaksi pertama dengan Rinta itu saat 31 Hari Menulis (http://31harimenulis.blogspot.co.id/), karena ngefans sama tulisannya di https://azarinekylarinta.wordpress.com (blog sebelum yang ini ada kan ya ?). Tulisan Rinta di 31
Hari menulis cukup asyik dan ternyata cukup banyak yang baca http://31harimenulis.blogspot.co.id/2013/06/penulis-tamu-ketujuh-31-hari-menulis_12.html.
Cukup lama setelah itu, kira-kira beberapa hari sebelum Rinta pergi dari DIY, saya sempatkan ketemu di Mcd yang ramai saat bubaran dugem, Mcd Jombor. Di sana cukup banyak yang diceritakan mengenai masa lalu, kini dan kedepannya. Cukup memberi ide-ide yang harus saya lakukan di masa depan, khususnya dedikasi untuk komunitas, untuk orang sekitar dan negara. Rinta cukup berobsesi untuk punya andil di kemajuan negeri.
Sebelum pergi dari DIY sebenarnya saya punya tekad untuk memberinya kado yang ke-star-wars-star-wars-an, karena foto facebooknya adalah Rinta memegang Lightsaber (lol), tapi sayangnya ternyata pulang wisuda Rinta tak lagi tampak dan kabarnya malah sudah di jalan menuju ibu kota bersama ibunda. Karena itu saya harus titipkan ke Aldo, teman dekatnya.
Setelah baca lagi tulisan Rinta di 31 hari menulis, saya baca lagi kutipan tulisannya (setelah googling ternyata) dari puisi Robert Frost, The Road Not Taken :
Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Kalau dibaca dikala umur segini ternyata rasanya beda ya. ah.
Sekarang Rinta punya project lain juga disamping blognya, https://theavonturir.wordpress.com/, kumpulan cerita tentang Rinta yang berada di Jakarta dan rekannya, Rifda Amalia (her twins actually~) di New York sana. Mereka berbagi cerita tentang yang mereka lihat sehari-hari, dari pameran seni hingga opini politik Beberapa minggu yang lalu mereka saling temu kembali di newyork dan menyaksikan The Book of Mormon on Broadway (ah damn).
Rinta kini sepertinya masih di DKI, bertugas kesana kemari di acara yang berbau seni. Semoga Rinta tetap waras dan tetap panjang umurnya meski sering hidup bersama deadline, rokok dan kopi.
leren lho cos ~
Comments
Post a Comment